Mahasiswa Ekonomi Syariah Raih Sukses Lewat Warung Lalapan

Malang, 15 Oktober 2025 – Di tengah kesibukan kuliah, Nadhira Ala Hamid — mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang — berhasil menjadikan dunia wirausaha sebagai ladang pengalaman nyata. Lewat usahanya, Warung Lalapan Pojok (WLP), Hamid membuktikan bahwa kampus dan bisnis bisa berjalan beriringan. Awal Perjalanan & Pelajaran dari Kegagalan Sejak tahun 2020, Hamid sudah mencoba terjun ke bisnis kuliner lewat sebuah kedai kopi. Namun, meski ide itu menarik, target pasar yang terlalu spesifik dianggap sebagai salah satu faktor penyebab kegagalan usaha itu bertahan lama. “Saya terlalu membidik segmen menengah ke atas, sementara modal sosialisasi dan brand belum kuat,” ujarnya mengenang. Kegagalan itu bukan akhir — justru menjadi pijakan penting. Pada 2023, Hamid mencoba bermanuver dengan model usaha yang lebih fleksibel dan menyasar semua kalangan. Hasilnya, Warung Lalapan Pojok tumbuh dari usaha rumahan menjadi usaha kecil yang nyata. Strategi yang Membawa Perubahan Hamid memilih bisnis kuliner karena arus keluar-masuk uang cenderung cepat — penting untuk menjaga likuiditas. Dia menerapkan prinsip-prinsip keuangan dan manajemen bisnis yang dipelajari di bangku kuliah, seperti menghitung margin, biaya operasional, serta strategi pemasaran sederhana lewat media sosial. “Kuliah memberi saya teori; usaha membantu saya memahami praktiknya,” kata Hamid. Ia mengaku sering menerjemahkan materi seperti akuntansi dan manajemen kelas menjadi ragam laporan harian—laporan penjualan, stok bahan baku, dan evaluasi promosi setiap minggu. Kinerja Keuangan & Operasional Saat ini, Warung Lalapan Pojok dikelola dengan tim kecil beranggotakan dua karyawan tetap. Dalam kondisi normal, omzet bulanan rata-rata mencapai Rp 12 juta, yang bila dijumlah sepanjang tahun bisa menyentuh sekitar Rp 120 juta. Angka ini cukup membanggakan, mengingat usaha ini bermula dari nol. “Omzet bukan segalanya, tapi menjadi tolok ukur bahwa usaha ini hidup,” tutur Hamid. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas makanan, pelayanan, dan konsistensi agar pelanggan tetap setia. Tantangan & Rencana Ke Depan Meski sudah meraih pencapaian, tidak berarti perjalanan Hamid tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang dia hadapi: Persaingan kuliner lokal yang sangat ketat Fluktuasi harga bahan baku (sayur, ayam, bumbu) Manajemen waktu antara perkuliahan dan operasional usaha Pengembangan pemasaran digital yang efektif Untuk masa depan, Hamid berencana memperluas jaringan warung di beberapa titik strategis di Kabupaten Malang. Ia juga tertarik menambah menu alternatif sehat agar menarik segmen baru. Tak hanya itu, ia ingin mengajak teman-teman seangkatan untuk berkolaborasi dalam usaha kuliner berbasis komunitas (Humas Ekos/NS).